Koleksi kartu lebaran 2010 menyambut datangnya Idul Fitri tahun 1431 H.
Sebentar lagi sudah mau lebaran 1431 H / 2010, Hari raya Idul Fitri, banyak yang yang butuh peta jalur mudik 2010, dan juga Kartu lebaran.
Kartu Lebaran yang dulu banyak dikirim lewat Kantor POS sekarang banyak dikirim lewat email, lewat blog, lewat website, lewat situs.
Selamat mudik, Selamat Berlebaran, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H / 2010, pasti banyak kesalahan yang saya lakukan, mohon maaf lahir dan batin. Minal Minal Aidin Wal Faidzin.
Sabtu, 21 Agustus 2010
Minggu, 15 Agustus 2010
Semar mBangun Kayangan Ki Sigit
Untuk kepentingan “mbangun kayangan” , Ki Lurah Semar bermaksud meminjam Jamus Kalimasada kepada Prabu Puntadewa. Oleh karena itu, dia mengutus Petruk untuk menghadap Sang Prabu guna menindak lanjuti rencana tersebut. Pada saat yang sama Pendita Durna dan Patih Sakuni menyampaikan pesan sebagai utusan Prabu Duryudana, untuk _juga- meminjam Jamus Kalimasada sebagai sarana memulihkan “dahuru” yang menimpa Kerajaan Astinapura.Tentu saja, Prabu Puntadewa menjadi “ewuh aya ing pambudi” kepada siapa Jamus Kalimasada akan dipinjamkan. Prabu Kresna yang berada di pasewakan karena diundang Prabu puntadewa, mengambil langkah bijak agar masing-masing menunggu di alun-alun, sementara keputusan akan dimusyawarahkan terlebih dahulu. Kresna pergi ke Kahyangan Jonggring Saloka guna menghadap Betara Guru agar diberikan petunjuk menyelesaikan permasalahan ini dengan cara yang tepat. Sambil menunggu kedatangan Sri Kresna, Prabu Puntadewa menemui para utusan dan memberikan syarat bagi siapapun yang bermaksud meminjam Jamus Kalimasada, yaitu berupa “Kembang Turangga Jati”. Siapapun, baik Semar maupun Duryudana bisa membawa Jamus Kalimasada asalkan berhasil memetik “Kembang Turangga Jati”.
sumber : http://apdnsemarang.wordpress.com
Silahkan menikmati audio mp3nya disini.
Semar Mbangun Kahyangan Ki Sigit1.MP3
Semar Mbangun Kahyangan Ki Sigit2.MP3
Semar Mbangun Kahyangan Ki Sigit3.MP3
Semar Mbangun Kahyangan Ki Sigit4.MP3
Semar Mbangun Kahyangan Ki Sigit5.MP3
Semar Mbangun Kahyangan Ki Sigit6.MP3
Semar Mbangun Kahyangan Ki Sigit7.MP3
Semar Mbangun Kahyangan Ki Sigit8.MP3
Senin, 09 Agustus 2010
Sunan Kudus, Masjid Menara Kudus, sampai Larangan Sembelih Sapi
Dari sekian masjid bersejarah di Indonesia, Masjid Menara Kudus (Jawa Tengah) punya keunikan tersendiri. Sebuah menara mirip candi berdiri anggun di sebelah kiri depan masjid. Banyak masyarakat awam, bahkan para arkeolog yang bertanya-tanya, bagaimana elemen masjid mengadopsi model bangunan tempat ibadah umat Hindu dan Buddha.Tidak hanya menara, bangunan-bangunan di sekeliling masjid juga banyak yang mirip dengan bangunan candi. Gapura di depan masjid yang tersusun dari batu bata tanpa semen tidak lain merupakan ciri khas candi di Jawa Timur. Ada juga pancuran untuk wudhu yang berjumlah delapan. Di atas pancuran itu diletakkan arca. Jumlah delapan pancuran, konon mengadaptasi keyakinan Buddha, yakni 'Delapan Jalan Kebenaran' atau Asta Sanghika Marga.
Kamis, 29 Juli 2010
Maling Kopo Maling Kentiri
Ketoprak Wahyu Budoyo Babad Pati : Maling Kopo Maling KentiriDalam legenda Maling Kopo, dikisahkan bahwa Sunan Muria menghadiri pesta tasyakuran (syukuran) di Juwana yang diadakan Ki Ageng Ngerang, kakek Juru Martani yang kelak akan menjadi pendukung penting Sutawijaya dalam mendirikan Kerajaan Mataram.
Konon pesta yang dihadiri murid-muridnya itu untuk mensyukuri tercapainya usia 20 dari putri Ki Ageng, yakni Dewi Roroyono. Adalah putri tersebut yang menghidangkan makanan dan minuman, dan apa boleh buat membuat salah seorang muridnya, Adipati Pethak Warak, terpesona begitu rupa sehingga berniat menculiknya.
Sebetulnya bukan hanya daya tarik Roroyono, melainkan perilaku Roroyono yang telah mempermalukan sang adipati memicu kehendaknya – dalam pesta itu Pethak Warak yang sudah beristri merayu dengan kasar dan menarik-narik tangan Roroyono, sehingga gadis muda itu tersinggung dan menyipratkan minuman ke baju Pethak Warak.
Jumat, 09 Juli 2010
Babat Wanamarta
Wayang bukan hanya sekedar tontonan namun juga berfungsi sebagai tuntunan. Dengan menikmatinya kita dapat mencari hiburan sekaligus dapat mengambil suatu “nilai tambah” dari lakon yang dipagelarkan.“Babat Wanamarta” ini adalah kisah tentang perjalanan sebuah negara baru. Diceritakan bagaimana Amarta dibangun dengan cara mem-babat hutan wanamarta. Betapa Pandawa yang telah selamat dari kelicikan Kurawa dan kemudian terlunta-lunta menyusuri hutan demi hutan, berkelana dari kampung ke kampung dengan tujuan untuk menghindari saudara tuanya Kurawa, akhirnya berlabuh di negri Wiratha.
Singkat cerita kemudian Pandhawa diberi hutan Wanawarta yang masih berwujud alas gung liwang liwung. Tidak hanya merupakan hutan lebat, Wanamarta adalah hutan yang terkenal keangkerannya. Tidak ada yang berani untuk memasukinya karena hutan itu menjadi “rumah” bagi para jin dan raksasa yang ganas.
Namun dengan keyakinan diri yang kuat serta semangat untuk membangun negara baru yang adalah masa depan mereka, akhirnya Pandawa mengawali membabat alas itu. Gangguan beraneka macam selalu muncul, cobaan dan derita tiada mengenal waktu. Dengan tabah Pandawa melalui semua itu sehingga kemudian lahirlah sebuah kerajaan baru yang mereka beri nama Amarta atau Indraprasta.
Jumat, 25 Juni 2010
Lakon Sebelum Baratayuda
Jadwal Siaran "Radio Budaya Jawa" tanggal 25 Juni s.d. 25 Agustus 2010



Baratayuda merupakan puncak perselisihan antara keluarga Pandawa yang dipimpin oleh Puntadewa (atau Yudistira) melawan sepupu mereka, yaitu para Korawa yang dipimpin oleh Duryudana.
Akan tetapi versi pewayangan menyebut perang Baratayuda sebagai peristiwa yang sudah ditetapkan kejadiannya oleh dewata. Konon, sebelum Pandawa dan Korawa dilahirkan, perang ini sudah ditetapkan akan terjadi. Selain itu, Padang Kurusetra sebagai medan pertempuran menurut pewayangan bukan berlokasi di India, melainkan berada di Jawa. Dengan kata lain, kisah Mahabharata menurut tradisi Jawa dianggap terjadi di Pulau Jawa.
Bibit perselisihan antara Pandawa dan Korawa dimulai sejak orang tua mereka masih sama-sama muda. Pandu, ayah para Pandawa suatu hari membawa pulang tiga orang putri dari tiga negara, bernama Kunti, Gendari, dan Madrim. Salah satu dari mereka dipersembahkan kepada Dretarastra, kakaknya yang buta. Dretarastra memutuskan untuk memilih Gendari, sehingga membuat putri dari Kerajaan Plasajenar itu tersinggung dan sakit hati. Ia pun bersumpah keturunannya kelak akan menjadi musuh bebuyutan anak-anak Pandu.
Gendari dan adiknya, bernama Sengkuni, mendidik anak-anaknya yang berjumlah seratus orang untuk selalu memusuhi anak-anak Pandu. Ketika Pandu meninggal, anak-anaknya semakin menderita. nyawa mereka selalu diincar oleh sepupu mereka, yaitu para Korawa. Kisah-kisah selanjutnya tidak jauh berbeda dengan versi Mahabharata, antara lain usaha pembunuhan Pandawa dalam istana yang terbakar, sampai perebutan Kerajaan Amarta melalui permainan dadu.
Akibat kekalahan dalam perjudian tersebut, para Pandawa harus menjalani hukuman pengasingan di Hutan Kamiyaka selama 12 tahun, ditambah dengan setahun menyamar sebagai orang rakyat jelata di Kerajaan Wirata. Namun setelah masa hukuman berakhir, para Korawa menolak mengembalikan hak-hak para Pandawa. Keputusan inilah yang membuat perang Baratayuda tidak dapat dihindari lagi.
Akan tetapi versi pewayangan menyebut perang Baratayuda sebagai peristiwa yang sudah ditetapkan kejadiannya oleh dewata. Konon, sebelum Pandawa dan Korawa dilahirkan, perang ini sudah ditetapkan akan terjadi. Selain itu, Padang Kurusetra sebagai medan pertempuran menurut pewayangan bukan berlokasi di India, melainkan berada di Jawa. Dengan kata lain, kisah Mahabharata menurut tradisi Jawa dianggap terjadi di Pulau Jawa.
Bibit perselisihan antara Pandawa dan Korawa dimulai sejak orang tua mereka masih sama-sama muda. Pandu, ayah para Pandawa suatu hari membawa pulang tiga orang putri dari tiga negara, bernama Kunti, Gendari, dan Madrim. Salah satu dari mereka dipersembahkan kepada Dretarastra, kakaknya yang buta. Dretarastra memutuskan untuk memilih Gendari, sehingga membuat putri dari Kerajaan Plasajenar itu tersinggung dan sakit hati. Ia pun bersumpah keturunannya kelak akan menjadi musuh bebuyutan anak-anak Pandu.
Gendari dan adiknya, bernama Sengkuni, mendidik anak-anaknya yang berjumlah seratus orang untuk selalu memusuhi anak-anak Pandu. Ketika Pandu meninggal, anak-anaknya semakin menderita. nyawa mereka selalu diincar oleh sepupu mereka, yaitu para Korawa. Kisah-kisah selanjutnya tidak jauh berbeda dengan versi Mahabharata, antara lain usaha pembunuhan Pandawa dalam istana yang terbakar, sampai perebutan Kerajaan Amarta melalui permainan dadu.
Akibat kekalahan dalam perjudian tersebut, para Pandawa harus menjalani hukuman pengasingan di Hutan Kamiyaka selama 12 tahun, ditambah dengan setahun menyamar sebagai orang rakyat jelata di Kerajaan Wirata. Namun setelah masa hukuman berakhir, para Korawa menolak mengembalikan hak-hak para Pandawa. Keputusan inilah yang membuat perang Baratayuda tidak dapat dihindari lagi.
Senin, 07 Juni 2010
Jadwal Siaran Radio "BUDAYA JAWA" 7 s.d. 24 Juni 2010
Radio Budaya Jawa mulai tanggal 7 .d. 24 Juni 2010 menampilkan Ki Anom Suroto lakon-lakon tentang Wahyu. Biasanya lakon tentang Wahyu adalah lakon carangan, yaitu lakon bukan pakem di cerita wayang Mahabarata atau Ramayana. Dan jalan ceritanya biasanya memperebutkan "wahyu" untuk kemuliaan atau tujuan-tujuan tertentu. Dan pada akhirnya yang berhak atas wahyu itu adalah kebaikan yang didalam perebutan itu mengalahkan kebatilan.
Langganan:
Postingan (Atom)
