...:: Senin, 18 Agusutus 2014 Jam 19.00 WIB Wayang Kulit Ki Anom Suroto Lakon "Durna Gugur" Bagian 1, Selamat Menikmati ::...
Tampilkan postingan dengan label Wayang Kulit Narto Sabdho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wayang Kulit Narto Sabdho. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 September 2011

Jadwal Siaran Radio Budaya Jawa

Jadwal Siaran Radio Budaya Jawa 
Wayang Kulit Serial Banjaran Ki Narto Sabdho 
24 September s.d. 7 Oktober 2011

No
Hari, Tanggal
Jam
Lakon
1
Sabtu, 24 Sept 2011
19.00 WIB
Banjaran Bismo Bagian 1
2
Minggu, 25 Sept 2011
19.00 WIB
Banjaran Bismo Bagian 2
3
Senin, 26 Sept 2011
19.00 WIB
Banjaran Karno Bagian 1
4
Selasa, 27 Sept 2011
19.00 WIB
Banjaran Karno Bagian 2
5
Rabu, 28 Sept 2011
19.00 WIB
Banjaran Arjuna I Bagian 1
6
Kamis, 29 Sept 2011
19.00 WIB
Banjaran Arjuna I Bagian 2
7
Jum’at, 30 Sept 2011
19.00 WIB
Banjaran Arjuna II Bagian 1
8
Sabtu, 1 Okt 2111
19.00 WIB
Banjaran Arjuna II Bagian 2
9
Minggu, 2 Okt 2011
19.00 WIB
Bima Kelana Jaya (Banjaran Bima) Bagian 1
10
Senin, 3 Okt 2011
19.00 WIB
Bima Kelana Jaya (Banjaran Bima) Bagian 2
11
Selasa, 4 Okt 2011
19.00 WIB
Banjaran Druno Bagian 1
12
Rabu, 5 Oktt 2011
19.00 WIB
Banjaran Druno Bagian 2
13
Kamis, 6 Okt 2011
19.00 WIB
Banjaran Gatotkaca Bagian 1
14
Jum’at, 7 Okt 2011
19.00 WIB
Banjaran Gatotkaca Bagian 2

Senin, 21 Februari 2011

Jadwal Siaran "Radio Budaya Jawa" tanggal 20 Februari s.d. 13 Maret 2011

Wayang Kulit KNS Lampahan menjelang dan Jalannya Baratayudha


NoHari, TanggalJamLakon
1Minggu, 20 Februari 201119.00 WIBParikesit Grogol Bagian 1
2Senin, 21 Februari 201119.00 WIBParikesit Grogol Bagian 2
3Selasa, 22 Februari 201119.00 WIBPandadaran Siswa Sokalima Bagian 1
4Rabu, 23 Februari 201119.00 WIBPandadaran Siswa Sokalima Bagian 2
5Kamis, 24 Februari 201119.00 WIBBale Golo - Golo Bagian 1
6Jum’at, 25 Februari 201119.00 WIBBale Golo - Golo Bagian 2
7Sabtu, 26 Februari 201119.00 WIBPandawa Dadu Bagian 1
8Minggu, 27 Februari 201119.00 WIBPandawa Dadu Bagian 2
9Senin, 28 Februari 201119.00 WIBPandawa Ngenger Bagian 1
10Selasa, 1 Maret 201119.00 WIBPandawa Ngenger Bagian 2
11Rabu, 2 Maret 201119.00 WIBBabad Wnamarta Bagian 1
12Kamis, 3 Maret 201119.00 WIBBabad Wnamarta Bagian 2
13Jum’at, 4 Maret 201119.00 WIBBabad Wnamarta (Live) Bagian 1
14Sabtu, 5 Maret 201119.00 WIBBabad Wnamarta (Live) Bagian 2
15Minggu, 6 Maret 201119.00 WIBWiratha Parwa Bagian 1
16Senin, 7 Maret 201119.00 WIBWiratha Parwa Bagian 2
17Selasa, 8 Maret 201119.00 WIBSesaji Rajasuya Bagian 1
18Rabu, 9 Maret 201119.00 WIBSesaji Rajasuya Bagian 2
19Kamis, 10 Maret 201119.00 WIBPandawa Gubah Bagian 1
20Jum’at, 11 Maret 201119.00 WIBPandawa Gubah Bagian 2
21Sabtu, 12 Maret 201119.00 WIBPandawa Boyong Bagian 1
22Minggu, 13 Maret 201119.00 WIBPandawa Boyong Bagian 2


Sumber : http://wayangprabu.com

Jumat, 25 Juni 2010

Lakon Sebelum Baratayuda

Jadwal Siaran "Radio Budaya Jawa" tanggal 25 Juni s.d. 25 Agustus 2010
Baratayuda merupakan puncak perselisihan antara keluarga Pandawa yang dipimpin oleh Puntadewa (atau Yudistira) melawan sepupu mereka, yaitu para Korawa yang dipimpin oleh Duryudana.

Akan tetapi versi pewayangan menyebut perang Baratayuda sebagai peristiwa yang sudah ditetapkan kejadiannya oleh dewata. Konon, sebelum Pandawa dan Korawa dilahirkan, perang ini sudah ditetapkan akan terjadi. Selain itu, Padang Kurusetra sebagai medan pertempuran menurut pewayangan bukan berlokasi di India, melainkan berada di Jawa. Dengan kata lain, kisah Mahabharata menurut tradisi Jawa dianggap terjadi di Pulau Jawa.

Bibit perselisihan antara Pandawa dan Korawa dimulai sejak orang tua mereka masih sama-sama muda. Pandu, ayah para Pandawa suatu hari membawa pulang tiga orang putri dari tiga negara, bernama Kunti, Gendari, dan Madrim. Salah satu dari mereka dipersembahkan kepada Dretarastra, kakaknya yang buta. Dretarastra memutuskan untuk memilih Gendari, sehingga membuat putri dari Kerajaan Plasajenar itu tersinggung dan sakit hati. Ia pun bersumpah keturunannya kelak akan menjadi musuh bebuyutan anak-anak Pandu.

Gendari dan adiknya, bernama Sengkuni, mendidik anak-anaknya yang berjumlah seratus orang untuk selalu memusuhi anak-anak Pandu. Ketika Pandu meninggal, anak-anaknya semakin menderita. nyawa mereka selalu diincar oleh sepupu mereka, yaitu para Korawa. Kisah-kisah selanjutnya tidak jauh berbeda dengan versi Mahabharata, antara lain usaha pembunuhan Pandawa dalam istana yang terbakar, sampai perebutan Kerajaan Amarta melalui permainan dadu.

Akibat kekalahan dalam perjudian tersebut, para Pandawa harus menjalani hukuman pengasingan di Hutan Kamiyaka selama 12 tahun, ditambah dengan setahun menyamar sebagai orang rakyat jelata di Kerajaan Wirata. Namun setelah masa hukuman berakhir, para Korawa menolak mengembalikan hak-hak para Pandawa. Keputusan inilah yang membuat perang Baratayuda tidak dapat dihindari lagi.

Kamis, 22 April 2010

Anoman Swargo


Cerita diawali dengan datangnya pinangan Prabu Yaksa Dewa dari negri Sela Uma. Raja raksasa ini ingin meminang kembang negara Widarba yaitu putri Prabu Jaya Purusa yaitu Dewi Pramesti, putri sulung sang prabu. Maka diutuslah wadyabala Sela Uma yang dipimpin oleh Tumenggung Ditya Kala Daksa dan Tumenggung Ditya Kala Pradaksa untuk “Angebun-ebun enjang, Anjejawah Sonten”.


Begitu lamaran disampaikan, Jaya Amijya, putra mahkota Widarba, langsung marah-marah dan bermaksud mengusir utusan dari negri Sela Uma tadi. Kalau perlu dibunuhnya. Namun dengan sangat bijak, Prabu Jaya Purusa mendinginkan suasana dan meminta putranya agar diam. Wawasan yang luas telah mengetahui akan kuatnya negri Sela Uma serta saktinya Prabu Yaksa Dewa sehingga bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka boleh jadi negri Widarba akan dihancur leburkan oleh wadya bala Sela Uma dibawah pimpinan raja raksasa yang sakti mandraguna.

Hingga kemudian Prabu Jaya Purusa menjelaskan kepada Ditya Kala Daksa dan Pradaksa bahwa lamaran Raja Mereka belum dapat dijawab saat ini, ditolak atau diterima, diperlukan waktu sekitar satu bulan untuk menetapkannya. Dan diminta mereka beserta pasukannya sementara untuk berkemah di luar negri Widarba, daerah perbatasan seraya menunggu jawaban nanti.

Setelah kepergian utusan Sela Uma tadi, maka Sang Prabu Jaya Purusa menyusun strategi untuk menghadapi tantangan ini. Disuruhlah Patih Harya Suksara untuk berjaga didaerah perbatasan negara terhadap kemungkinan adanya yang musuh yang menyusup. Adiknya Harya Susastra dan anaknya Jaya Amijaya-pun diminta untuk mencari jago yang nantinya akan berhadapan dengan Prabu Yaksa Dewa. Harus dicari dan didapat seorang yang mempunyai kesaktian dalam menghadapi Raja raksasa nanti.

Selain Jaya Amijaya dan Dewi Pramesti, Prabu Jaya Purusa masih mempunyai dua putri lagi yaitu Dewi Pramoni dan Dewi Sasanti. Saat lamaran itu diwartakan dan ditawarkan kepada Dewi Pramesti, tentu saja sang putri kaget dan langsung menolak. Dengan diiringi tangis kesedihan, Sang Dewi berharap agar Ayahandanya tidak memenuhi lamaran itu. Prabu Jaya Purusa sangat mengerti akan keputusan putrinya itu dan hal itu sudah diduganya. Sebagai raja negri Widarba sekaligus ayah dari putri terkasihnya, semua harus diperjuangkan untuk mengangkak harkat dan martabat seorang ksatria.

Sementara itu di pertapaan Kendalisada Resi Mayangkara atau Hanoman memohon kepada Dewa agar ia diperkenankan segera kembali ke Kaswargan Jati meninggalkan dunia fana.

Permohonanya dikabulkan dengan syarat ia harus dapat menikahkan kstaria-ksatria Yawastina atau Hastina yaitu Prabu Hastra Darma, Raden Darma Sarana dan Raden Darma Kusuma, ketiganya merupakan keturunan ke-enam dari Raden Harjuna panengah Pandawa (atau ketiganya merupakan cicit Parikesit).

Raden Jaya Amijaya bertemu Resi Mayangkara. Resi Mayangkara bersedia menjadi menjadi jago Negeri Widarba. Setelah berhasil menumpas Patih Madrawa beserta wadyabalanya dari Negeri Selahuma, Resi Mayangkara mendapat hadiah ketiga putri Widarba, masing-masing bernama Dewi Pramesti, Dewi Pramoni dan Dewi Sasanti. Oleh Resi Mayangkara ketiga putri tersebut dinikahkan dengan ketiga ksatria Yawastina.

Prabu Yaksadewa dari negeri Selahuma mengamuk, bertanding dengan Resi Mayangkara. Prabu Yaksadewa kena digigit Resi Mayangkara kembali ujud aslinya yaitu Batara Kala. Resi Mayangkara tertimpa gada gugur pada saat itu juga, sedang gada Prabu Yaksadewa kembali ke wujud asalnya yaitu Hyang Brahma.

Dengan demikian tercapailah keinginan Resi Mayangkara kembali ke Kahyangan berkumpul dengan para Dewata di Sorga Loka.

sumber : http://nartosabdho.co.cc/?p=205


Minggu, 04 April 2010

Urutan Seri Mahabarata Versi Narto Sabdho

Mungkin urutan ini kurang tepat, tapi saya coba mengurutkan berdasarkan lakon-lakon yang dibawakan sang Maestro Ki Narto Sabdho. Mohon koreksi bila ada yang kelewatan. Urutan serial cerita tersebut:

1. Bale Golo-golo
2. Sayembara Mentang Langkap
3. Babat Wanamarta
4. Sesaji Rajasuya
5. Pendawa Dadu
6. Pendawa Ngenger
7. Wiratha Parwa –(sisipan Kalabendana Gugur
8. Kresna Gugah-Sisipan antara Wiratha Parwa dan Kresna Duta
9. Kresna Duta (Bisma Gugur)
10.Ranjaban Abimanyu Gugur (Lesmana gugur, Burisrawa gugur dan Jayajatra Lena) 11.Gatutkaca Gugur (Durna Gugur)
12.Karna Tanding (Dursasana Lena)
13.Duryudana Gugur (Salya Gugur)
14.Pendawa Boyong (Destarata pralaya)
15.Parikesit Lahir
Diantara lakon-lakon tersebut banyak kisah (lakon carangan) yang dibawakan oleh Ki Narto Sabdho.

Sumber : Wayangprabu.com

Jadwal Siaran Radio "BUDAYA JAWA"